Akhwat's Laman

Showing posts with label Thinking. Show all posts
Showing posts with label Thinking. Show all posts

Saturday, February 22, 2014

Saat Aku Pulang Tanpa Babeh... (Part.2)

20.30 WIB
Babeh meneleponku.

“Mba, udah sampai mana?”
“Masih lumayan Mba.”
“Tadi kata Ibu, itu A Iwan mau jemput.”
“Iya Beh, aku udah hubungin A Iwan nya.”
“Disana macet Mba?”
“Udah ga terlalu Beh, tadi mah iya.”
“Iya nih Bapak juga ini kena macet. Yaudah, hati2 ya..”
“Oke Beh..”


21.18 WIB
Ibu meneleponku.

“Mba, sudah sampai mana?”
“Masih jauh Bu. Tadi aku udah hubungin A Iwan.”
“Oh iya atuh, langsung kasih tau A Iwan nya ya kalo udah deket.”
“Oke bu..”
“Hati-hati ya nak..”


22.03 WIB

Alhamdulillah aku sampai juga. Aku pun menghubungi A Iwan bahwa aku sudah sampai, tapi nampaknya A Iwan masih di jalan, jadi aku tunggu di depan Alfamart terdekat. Aku pun tak lupa menghubungi orang tua ku bahwa aku sudah sampai dan sedang menunggu A Iwan. Tapi sepertinya Ibu dan Babeh terus menghubungi A Iwan dan terus memantauku. Aku yang awalnya biasa saja, mulai merasa ‘takut’.

A Iwan masih belum juga datang, sementara Alfamart sudah akan tutup. Orang2 yang tadi satu bus denganku juga ada yang sudah dijemput, naik taksi, atau angkot. Sementara aku masih menunggu sambil terus waspada karena semakin sedikit orang yang aku yakini sebagai ‘orang baik2’. Untuk mengalihkan perhatianku, aku pun melihat2 jejaring sosial, WA dan FB. Dan jika ingin tahu kondisiku saat itu, aku masih ketakutan.

Di WA, seorang temanku mengirim link artikel kaskus yang judulnya “Na’as, Seorang Cowok Asik Berfoto Tidak Sadar Sang Pacar Sedang Diperkosa” dan memintaku membuka link nya yang belakangan aku diberi tahu bahwa itu hanya kucing. Tapi jujur aku adalah orang yang sangat imajinatif, dan aku membayangkan betapa mengerikannya keadaan itu HANYA dari judul yang diberi temanku. Selain itu juga di grup ada yang memberi info peringatan mengenai geng motor yang ingin membalas dendam di daerah Pondok Gede, sehingga diharapkan untuk berhati2 jika keluar malam2 (padahal itu jelas2 dikatakan di PONDOK GEDE, kenapa pula aku ini??!). Di FB, seorang adik kelas memposting mengenai seoang gadis SMA yang meninggal karena terlindas truk. Allah... apa2an ini? Pikiranku pun mulai liar (orang-orang yang kenal aku harusnya tahu seperti apa bentuk dari jenis parno seperti ini).

Aku mulai mencoba menenangkan diriku dengan terus beristighfar, aku yakin memang aku bisa meninggal kapan saja, tapi kekhawatiran ini pasti syetan yang terus membisikkannya dalam hatiku dan aku tidak boleh membiarkannya.


22.31 WIB
Alhamdulillah.. A Iwan sudah datang, aku pun merasa lebih tenang.

***

Selama perjalanan aku merenungi apa yang terjadi pada diriku tadi. Selain tersenyum sendiri (karena aku merasa lucu sendiri dengan ketakutanku tadi), aku sadar, aku tak bisa terus bergantung pada Babeh. Babeh hanya salah satu perantara kemudahan bagiku dari Allah. Apakah jika tidak ada Babeh, lantas aku tidak akan menerima kemudahan? Kalau keyakinanku hanya sampai situ, berarti imanku bermasalah!

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” [QS. Al-Insyirah: 5-8]

Lihat, bahwa Allah SWT. meyakinkan kita sampai 2x! Bahwa tiap ada kesulitan yang kita terima, Allah katakan ada kemudahannya. Jika kita mendustakannya, ampun, celaka deh... Tapi, lihat dalam akhir surat  Allah mengatakan bahwa keyakinan itu memang tidak sekonyong2 hadir, namun karena kepada Allah-lah harapan kita digantungkan. Maka masalah ada Babeh atau tidak, sudah clear (walaupun memang keberadaan Babeh memberikan kenyamanan tersendiri).

Awalnya aku pun tidak masalah mengenai bagaimana cara aku sampai ke rumah, entah itu angkot atau taksi, toh dulu aku juga biasa seperti itu. Tapi Ibu dan Bapak terus menghubungiku, memperlihatkan kekhawatirannya padaku, aku sangat paham, SANGAT. Sebagai orang tua yang memiliki anak gadis, tentu kekhawatiran mereka jauh lebih besar ditambah mengingat keadaan ‘masyarakat malam’ belakangan ini yang cukup mengkhawatirkan. Namun seharusnya aku tidak ikut dalam perasaan itu dan malah menambah parah keadaan mental diri sendiri. Dengan bekal keyakinan pada Allah SWT, harusnya aku menjadi pihak yang memahami dan memahamkan orang tuaku sambil terus waspada dan meminta perlindungan pada Sang Maha Melindungi. Dan mengenai bisikan2 setan? Itu apalagi!

“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” [QS. Al-A’raaf: 16-17]

Tuh, syetan akan terus keukeuh membisikkan apapun yang membuat kita jauh dariNya dari berbagai arah. Strategi mereka pun variatif, bahkan melalui hal2 sepele yang bisa jadi terlalaikan oleh kita, salah satunya tentang kekhawatiran2 macem ni. Tapi karena Allah tahu banget kita kaya gimana, Allah udah kasih tahu, jika sepintas saja itu membuat keyakinanku pada kuasaNya melemah, teruslah berdzikir.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [QS. Ar-Ra’du: 28]

Sekian hikmah dari pengalaman yang ceritanya puuuuaaannnjaaangggg ini. Semoga Allah meluruskan niat aku dalam menulis cerita ini dan tersampaikan pula pesan yang aku dapat dariNya, pada siapapun yang membaca. J


Wallahualam bishshawwab..

Saat Aku Pulang Tanpa Babeh...(Part.1)

“Mba, hari ini pulang?”
“InsyaAllah Beh, sore ini jam4an aku berangkat dari kantor. Entar kalo udah dapet bus nya aku kabarin lagi ya..”
“Oke siap.. Jangan lupa kabarin kalo udah nyampe Padalarang ya..”
“Wokeh Beh..”

Yap, itu percakapan SMS atau telpon yang biasa aku lakukan dengan Babeh ketika akan pulang ke Bandung. Aku yang bekerja di Jakarta, setiap pulang ke Bandung selalu merepotkan Babeh alias minta jemput. Jemput dimana? Hmm, di jembatan tol Buah Batu. Hah, ga salah?

Hehe, aku susah juga menjelaskan keadaan aku pulang, tapi aku coba beri bayangan ya..
Jadi, dulu sebenarnya aku sering pulang ke Bandung naik travel. Tapi berhubung harganya cukup mahal dan perjalanan dari kantor menuju pool travel agak bolak balik (jadi, dari pool travel menuju Bandung itu melewati arah kantor aku juga), aku memutuskan untuk naik bus. Awalnya aku parno mendengar kata bus, karena aku pernah merasakannya dan itu sangat tidak nyaman (karena aku naik bus bukan dari pool nya, jadi di saat bus sudah terisi penuh oleh penumpang dari Lebak Bulus, dan aku terpaksa berdiri atau tidak jelas posisi).

Namun, aku tahu dari teman bahwa mereka biasa naik bus jurusan ke Garut atau Tasik. Mereka berangkat dari pool Primajasa langsung di daerah BKN (dari sini, bus nya masih pada kosong cuy) dan setelah sampai turun di jembatan tol (jembatan tol ini di atas jalan yang jadi jalur kami ke tempat tujuan pulang). Ada yang di wilayah Padalarang, Leuwi Gajah, Kopo, Moh.Toha dan di tempat aku biasa turun yaitu Buah Batu. Kenapa Buah Batu? Karena itu lebih dekat dengan rumahku. Yah, dibandingkan dengan naik bus jurusan Bandung dan turunnya di Leuwi Panjang (jauh cuy) atau naik travel dan turun di daerah Balubur (sama jauh, kasian Babeh), ya lebih baik ini, meski agak ilegal sih, hehehe...

Sebenarnya aku kasian juga dengan Babeh, karena beliau juga pasti sudah capek dengan kerjanya. Namun beliau berdalih, “Ya masa Bapak biarin Mba pulang sendirian, udah larut, cewe pula..” (emang Babeh, love u full dah.. :*) Aku juga tidak bisa membayangkan seramnya perjalanan sendirian pulang. Mengingat keadaan Bandung pada malam hari yang sulit ditebak. Naik angkot olangan, ditemani penumpang2 yang mencurigakan..hiiiiyyy... Ibu pasti ga bisa tidur tenang.
Namun muncul momen dimana Allah menguji aku, Bapak, Ibu... (*lebay sih, tapi insyaAllah makna...)


21 Februari 2013..

07.00 WIB
Pagi itu, aku mendapat telepon dari Babeh.

“Duh Mba, meni pas ya, Mba pulang sore ini, Bapak malah ke Jakarta..”
“Oh, kenapa Beh? Tanding futsal lagi?”
“Heu-euh.. Mba pulang sama siapa? Kalo sama Dodon, entar nebeng aja, ikut sampe soekarno hatta gitu, dari sana baru naik angkot, tapi jangan yang Cadas Cibiru ya, yang Riung atau Margahayu aja..”
“Liat entar sih Beh, belum tau pada mau pulang ato ga.. Tenang aja Beh, jam segituan mah masih banyak angkot juga..”
“Oh iya atuh, hati2 ya.. Kabarin Bapak..”
“Sssiap Beh..”

Yap, hari itu Babeh mendeklarasikan bahwa beliau tidak bisa menjemput aku. Hmm, aku agak khawatir, tapi ku tepis jauh2, “Ah, palingan nyampe Bandung jam 9 kurang.. masih banyak lah angkot mah..
Sebenarnya dengan keadaan ini aku jadi ingin memilih untuk tidak pulang. Karena akan melelahkan dan Ibu pasti sangat khawatir jika aku pulang sendiri. Tapi pekan ini aku ada tes wawancara kuliah lanjutan, itu alasan mengapa aku ‘terpaksa’ harus pulang. Padahal teman2 kantorku berencana jalan2... huft, pengorbanan...


16.50 WIB
BABEH SMS => Mba udah berangkat ke Bandung? Bapak udah berangkat ke Jakarta.
AKU BALAS => Ini lagi di busway menuju terminal bus Beh..
BABEH SMS => Ada temen Mba? Maaf ya Bapak ga bisa jemput..
AKU BALAS => Aku sendiri Beh..


17.40 WIB
Hari ini aku agak terlambat dapat bus, karena tadi perjalanan menuju terminal/pool agak macet dan aku keluar dari kantor agak terlambat. Tapi aku pikir ini masih wajar, mungkin sampai sekitar jam9. Aku pikir di tol tidak akan macet, karena sepertinya tidak banyak yang pulang ke Bandung.


18.30 WIB
Aku salah total. Muaceettt tenan rek!


18.42 WIB
BABEH SMS => Mba, sudah dapat busnya? Sudah berangkat?
AKU BALAS => Udah beh, udah dari jam6 an..


18.58 WIB
IBU SMS => Mba sudah sampai mana?
AKU BALAS => Masih di tol Bu, masih jauh.. Kenapa?
IBU SMS => Ada teman yang bareng? Mudah2an nyampainya ga malam ya nak dan diberi kelancaran.. aamiin.. (khawatir ga ada yang jemput) -> aku pun mulai berpikir untuk ikut khawatir.. L
AKU SMS => Aku sendiri bu.. Doain aja bu.. tenang aja.. kan ada Allah.. ;) -> padahal mah dalam hati..


19.37 WIB
IBU SMS => Mba, Ibu minta tolong ke A Iwan untuk jemput Mba, soalnya A Iwan sekalian pulang dari Holis cenah. Kalo mau nanti Mba sms A Iwan cenah kalo udah hampir sampai..

Aku mengiyakan dalam hati, karena aku lihat perjalanan masih di KM 30an.
BTW, A Iwan adalah suami dari bibiku. Beliau dan bibiku sudah ku anggap keluargaku sendiri. Jadi kami sudah sering saling meminta bantuan satu sama lain. Termasuk hal2 seperti ini (kalo darurat).

Aku ingin membalas, tapi masih mengantuk... zzzzz...

Thursday, January 30, 2014

Proposal Pangeran Berkuda Putih



Wahai Allah, meski aku malu dan Kau sudah tahu, aku harus tetap menyampaikannya padaMu.

Usiaku sudah memasuki kepala 2, teman2ku banyak yang sudah melahirkan bayi2 lucu, dan secara mental aku merasa sudah waktunya aku memikirkan hal ini..


Aku ingin menggenapkan separuh Dien ini. (#>u<#)


Tapi aku belum tahu, siapa pangeran berkuda putih yang akan datang ke rumahku untuk menjemputku.

Maka dari itu, sebelum Kau hadirkan ia ke hadapanku, aku ingin lebih dulu memintanya padaMu berdasarkan kriteria sesuai kecenderunganku, tentu boleh kan?

Pertama-tama, karena aku hanya melihat dari apa yang terlihat, maka secara fisik aku berharap dia:

  1. (Misalkan:) Berbadan tinggi dan gagah;
  2. Dst…

Dan karena ketika proses ta’aruf, aku ingin mengenal kepribadiannya, maka aku berharap dia:

  1. (Misalkan:) Penuh tanggung jawab;
  2. Dst…


Dan yang paling penting adalah ketika kami memang berjodoh, aku ingin mensyaratkan perjanjian pernikahan yang ingin kami jaga bersama, yaitu:

  1. (Misalkan:) Tidak menikah dengan akhwat lain selama aku masih mampu memenuhi kebutuhannya;
  2. Dll…


Hingga akhirnya dia datang, dan memenuhi inti persyaratanku yaitu IMAN dan CINTA nya padaMu, maka atas izinMu, segala persyaratan yang hanya bersifat duniawi tak lagi menjadi masalah bagiku. Maka semoga ini tak menjadi penghalang kehendakMu untukku, tapi menjadi bagian penantian indahku atasnya.. aamiin..


Jakarta, ... Januari 2014


-----Tertanda-----